Tampilkan postingan dengan label salesman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salesman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Bagaimana cara menjual yang baik

Cara Menjual yang baik

Bagaimana menjual yang baik ?
Menjual merupakan bakat alami manusia, mengapa ? Karena pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan untuk menjual. Berikut saya uraikan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk bisa sukses dalam menjual.
1. Kenali produk yang akan anda jual
Entah jenis produk apa yang akan anda jual, baik berupa jasa maupun barang, atau mengajak rekan untuk berbisnis, anda harus tahu benar mengenai produk yang akan anda jual ini. Pelajarialah terlebih dahulu produk anda, kelebihan produk anda, keuntungan, kekurangannya, kekuatan, kelemahan, biayanya, jangan sampai anda belum menguasai benar produknya. Ini juga akan menjadi pertimbangan anda untuk menyampaikan informasi tentang produk anda ke orang lain.


2. Sesuaikan penampilan anda
Penampilan menandakan kepribadian anda, orang akan melihat penampilan sebelum berkomunikasi dengan anda. Tentunya jika anda ingin menjual sesuatu kepada orang kalangan atas, setidaknya anda juga mengikuti gaya/tren/penampilan
3. Komunikatif
Ketika anda sudah menjaga penampilan anda langkah yang harus ditempuh adalah carilah calon pembeli sebanyak-banyaknya. Belajarlah untuk bergaul dengan orang lain, pelajarilah etika bergaul serta kunci yang sebenarnya adlah bersikap ramah pada orang lain.
4.Tuntunlah calon pembeli untuk mengambil keputusan
Usahakan anda menjelaskan dengan detail mengenai produk anda kepada pelanggan, yakinkan bahwa produk anda benar-benar menguntungkan. Bila perlu bandingkan dengan produk lainnya. Tapi anda juga harus siap dengan keberatan calon pembeli. Hendaknya anda sudah siap dengan jawabannya. Pastikan tidak ada paksaan dan jangan sampai kita memutuskan tidak bergaul lagi dengannya.
5. Manfaatkan kesempatan yang ada
Ketika calon pembeli mulai tertarik dengan produk kita,segeralah tawar-menawar harga sebelum mereka berubah pikiran, anda juga harus menyiapkan harga yang pantas, jangan sampai anda malah terbujuk rayuannya untuk menjual produk anda dengan harga yang murah.
6. Jangan Mengecewakan
Ini point terakhir, setelah anda menjual produk anda janganlah sampai anda mengecewakannya. Jangan pernah memutuskan komunikasi dan teruslah bersikap ramah, hal ini akan menaikkan image anda di mata pembeli dan ini akan menyebar ke teman-teman mereka ketika mereka benar-benar mengambil manfat dari produk yang kita jual. Kalau kita mengecewakan maka oran lain juga tidak akan percaya lagi.
Ya semuanya juga butuh kesabaran dalam kita menekuninya...jangan lupa berdoa...
dan kunci utamanya adalah KEJUJURAN anda. selamat berjualan.

Kamis, 30 Juni 2011

Aku terlahir sebagai SALESMAN

Inget, nggak? Waktu masih kanak-kanak, kita sering berangan-angan, kalo udah gede mau jadi apa. Jadi insinyur? jadi dokter... Ato jadi presiden He he he...
Tapi, kenyataannya, apa yang kita cita-citakan, seringkali jauh banget melencengnya dengan apa yang terjadi kemudian.

Saat ini, aku kerja sebagai supervisor marketing. Tau marketing kan? Mungkin dalam ilmu ekonomi, marketing dikit beda and... tentu saja ruang lingkupnya lebih luas dari sekedar kegiatanmenjual. Tapi buat aku, istilah marketing sih, cuman lebih keren dikit lah dibanding sales. He he he... (just kidding)

Aku masih inget, sewaktu kecil dulu sering banget aku liat para salesman yang keluar masuk di toko kepunyaan babe, minta orderan.
Verkoper, gitu istilah yang dipake babe kalo nyebut salesman.
Beberapa verkoper kayaknya sudah akrab banget ama babe, mereka sering diajak ngobrol sampe malam sambil nonton TV di rumah. Mungkin mereka ini sudah lama berhubungan bisnis ama babe, sehingga gampang dapet order.
Tapi, banyak juga loh salesman-salesman baru yang ditolak babe secara halus waktu mencoba berusaha nawarin barang jualannya. Beberapa langsung ngeloyor pergi, tapi banyak juga yang pantang menyerah.
Karena aku masih culun saat itu, aku cuman bisa mikir, kasian banget... tuh orang. Kenapa sih, babe gak iba ama mereka. kasih orderan dikit kan' gak apa. Hi hi hi...

Nah, sejak itu aku tetapkan hati, salesman adalah profesi yang harus aku hindari kelak bila telah dewasa. Ha ha ha... kebangetan tuh!

Tetapi...
Siapa yang nyangka, justru kerjaan perdana yang aku dapet setelah putus kuliah di tahun 05' justru sebagai salesman di sebuah kantor cabang perusahaan bahan bangunan. Nah lo...

Sebagai seorang yang bukan a natural born salesman, sudah tentu bikin aku jalan terseok-seok. Apalagi tugas pertamaku adalah menjual mesin mesin teknik langsung ke end user, produk-produk kelas berat yang belum trend waktu itu.
Masih inget jelas neh, pengalaman menyakitkan pas aku coba ngajuin penawaran ke proyek. Manajer purchasingnya yang cewek, item dan jelek itu nanggepin aku dengan super ketus gara-gara belum bikin appointment lebih dulu. Bahkan, tega-teganya dia ngelemparin lembar proposalku. Sialan..., padahal ngantrinya luaaaama bok!

Saat itu tugasku adalah nawarin barang ke toko-toko yang telah ditunjuk sebagai dealer. Persis verkoper yang dulu aku liat di toko babe. He he he... ini namanya kebetulan atau kualat neh?

Tugas sebagai salesman dealer lebih mengandalkan kemampuan untuk bersabar dan kepintaran untuk membuat langganan-langganan suka n' sayang ama kita, ketimbang keahlian menjual. Terus terang aja aku sedikit beruntung, merek produk yang aku jual saat itu, itung-itung masih tergolong market leader. So, gak banyak memerlukan manuver-manuver berbahaya. Cocok untuk rookie striker kayak aku ini.

Pokoknya, gak butuh waktu lama deh. Tiba-tiba aja caraku mendandani penampilan banyak berubah ketimbang style-ku yang semula acak-acakan. kayaknya mulutku juga makin lancar berkicau. Aku jadi punya banyak kenalan boss-boss pemilik toko yang hampir tiap hari jadi temen ngobrol, selain tempat nyari orderan. Lama-kelamaan, aku mulai terbiasa untuk mencintai pekerjaan ‘terkutuk’ ini. Lucu ya…

Suatu hari kelak, aku baru menyadari, pengalaman yang satu ini kayak batu pijakan untuk lompatan-lompatan selanjutnya buatku….

“Yang kita butuhkan untuk berhasil bukan sebuah Bakat, melainkan Kesempatan, Kemampuan dan Kemauan untuk memulai”